Another Story of Bang Toyib (part 1)

Karina

                Pagi ini cuaca cukup cerah saat saya pergi mengantar Aldo ke sekolah. Ya, biasanya memang Galih yang bertugas mengantar Aldo ke sekolah. Namun kali ini giliran saya yang mengantar Aldo karena suami saya itu sangat sibuk pagi ini dan harus segera berangkat ke kantor setelah menghabiskan sepiring nasi goreng serta kopi buatan saya. Aldo turun dari motor dan mencium tangan saya, lalu berlari masuk sekolah bersama teman-temannya yang lain. Kali ini saya memang memilih mengantar Aldo menggunakan motor, karena cuaca sedang bagus dan juga saya tidak ingin Aldo telat karena nanti terjebak macet.

               Setelah mengantar Aldo, saya pun berkeliling kota dengan motor saya. Kapan lagi bisa seperti ini di pagi hari. Tak lupa saya mampir ke pasar untuk membeli beberapa sayuran yang mulai habis. Jam menunjukkan pukul 09.30 saat saya menghabiskan suapan terakhir bubur kacang hijau di tempat langganan saya dekat pasar. Dulu jaman masih pacaran dengan Galih, kami berdua sering mampir kesini sekedar makan sambil melihat lalu lalang penjual pasar. Setelah membayar bubur kacang hijau tadi, saya pun baru ingat jika susu Aldo habis dan jajanan di rumah pun mulai habis juga. Saya juga ingat jika tadi pagi saya berjanji akan memasakkan Aldo spaghetti kornet untuk makan malamnya. Sebelum pulang, akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke Superindo membeli barang-barang tadi sebelum nantinya saya mager untuk keluar lagi.

                Saat akan membayar barang belanjaan saya, saya pun melihat sosok yang familiar tengah berada di section jajanan. Ya, dia saya kenal sebagai Mas Ian. Videographer serta pemilik distro baju dan sepatu yang seringkali bekerja sama dengan band Ardan. Sudah berapa lama saya tidak melihat sosoknya lagi setelah saya mengakhiri hubungan dengan Ardan dulu. Saya pun berniat akan pura-pura tidak melihat, saat sosok itu tiba-tiba memanggil saya.

“Karina, lo Karina kan?”

“Eh, mas Ian. Apa kabar mas?” balas saya yang tidak bisa menyembunyikan kecanggungan kali ini.

“Baik haha, waw udah lama ya ga ketemu. Eh, lo lagi buru-buru ngga? Yuk, ngobrol sambil ngopi dulu di kafe depan situ.” Mas Ian berbicara dengan senyum khasnya yang ramah.

“Eh, engga sih mas. Tapi ngga bisa lama-lama juga.”

“Iyaa, paling bentar doang. Tunggu di kafe depan ya.”

                Satu pertanyaan saya saat itu, mas Ian tampak membawa anak kecil perempuan yang mungkin berusia 3 tahun. Setau saya, melalui akun instagram nya yang masih saya follow hingga saat ini, tidak ada tanda-tanda jika laki-laki bertato itu telah menikah bahkan mempunyai anak. Pikiran saya pun mulai macam-macam mengingat dulu mas Ian sering nongkrong juga di club malam. Saya pun menunggu mas Ian di kafe dan tak berapa lama kemudian mas Ian datang tentunya bersama anak kecil tadi.

“Gimana? Udah pesen?” tanyanya sambil meletakkan barang belanjaan di kursi sebelahnya.

“Udah mas, tadi pesen latte aja karena gue udah makan.”

“Oh oke oke.”

Sementara mas Ian memesan makanan, saya terus memperhatikan anak kecil di samping mas Ian yang kini nampak asyik bermain squishy yang dibawa. Saya pun mulai menyadari, tatapan pengunjung lain terutama wanita yang melihat mas Ian dengan intens. Kali ini saya mengakui jika mas Ian nampak sedikit hot dengan hanya memakai sleeveless shirt hitam yang memperlihatkan barisan tato di lengannya, serta celana jeans pendek dan sepatu sneakers. Tak lupa kacamata hitamnya yang kini terletak di meja.

“Gue denger-denger, lo dah nikah ya rin.” Tanya mas Ian.

“Iya mas, udah ada anak satu juga. Cowok, namanya Aldo.”

“Oh waw, umur berapa sekarang?”

“Umur 5 tahun mas. Oiya mas, maap banget nih kalo tersinggung. Tapi mau nanya, ini anak mas?”

“Hahahaha, i was wondering kenapa lo daritadi ngga nanyain, eh ternyata kepo juga. Ya, ini keponakan gue. Dititipin ke gue 3 hari karena bokap nyokapnya pergi tugas ke Singapore. Kan lo juga tau kalo gue belom nikah hahaha.” Mas Ian tertawa renyah.

“Oh hehe, iya abisnya si adeknya ini ngga ada mirip-miripnya sama lo mas. Jadi gue kan bingung ini anak siapa.”

“Iya sih, emang ga mirip yak. Btw kemaren Ardan berangkat umroh. Rencana dia dua bulan lagi mau nikah katanya.”

“Uhuk…gimana mas?” tanya saya yang kini tersedak saat mendengar kabar itu.

“Iya, umroh bareng bapak ibunya. Ya gue ngasih tau dia mau nikah kalo-kalo lo ga diundang ke nikahan dia.”

“Ehmm..ya iya sih. Ya he deserves better kok,mas. Lagian kita juga dah punya kehidupan masing-masing kan.”

“Hmm..iya juga sih. Kalian juga udah ngga kontakan lagi kan.”

“Iya mas.” Saya pun kembali menyeruput latte saya.

               Setelah mengobrol ngalor ngidul dengan mas Ian, akhirnya saya pun pamit pulang. Tak lupa mas Ian mengajak bertukar kontak kalau kalau ada hal yang perlu dibincangkan. Sepanjang perjalanan pulang, saya masih memikirkan perkataan mas Ian bahwa 2 bulan lagi Ardan sudah akan melangsungkan pernikahan. Meskipun kini saya tak lagi kontak dengan mantan saya itu, namun sedikit kaget dan tentunya ada rasa sedih juga ketika tahu saya mungkin tidak akan diundang ke acara pernikahannya. Setidaknya saya juga ingin seperti Valerie, yang mengucapkan sepatah dua patah kata kepada mantannya yaitu Rendy sebelum Rendy menikah. Tapi lalu pikiran saya pun buyar ketika di lampu merah melihat boneka mampang yang berjoget ria.

                Malam ini, sehabis makan malam saya membantu Galih untuk packing karena besok pagi dia akan berangkat ke Surabaya untuk tugas kantor dan baru pulang lusa sore. Aldo tampak tidak mau lepas dari pangkuan papinya sedari tadi begitu tau besok akan ditinggal papinya ke luar kota. Besok paginya, setelah Galih berangkat dan saya mengantar Aldo ke sekolah, saya pun pulang dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu dan sebagainya. Saat sedang menyapu ruang tengah, nampak handphone saya berbunyi dan ternyata telepon tersebut dari mas Ian.

“Ya mas? Kenapa kok telepon?”

“Karina, gue boleh minta tolong ngga. Keponakan gue sakit, badannya panas banget. Ini daritadi nangis ga berhenti-berhenti manggil mamanya. Gue gatau harus gimana. Dibawa ke dokter gamau malah tambah nangis.” Mas Ian berbicara dengan nada kalut.

“Aduh, gimana ya mas. Gini deh, kasih alamat mas aja. Sapa tau gue bisa bantu ngebujuk ke dokter.”

“Oke, gue send loc lewat whatsapp ya.”

“Iya mas.”

                Setelah mendapat lokasi rumah mas Ian, saya pun bergegas menuju rumah mas Ian. Saya juga sedikit panik mengingat anak perempuan kemarin itu masih sangat kecil dan membuat saya teringat pada Aldo. Sesampainya di rumah mas Ian, saya pun dengan sigap membuat susu dan mengompres anak tersebut hingga akhirnya dia tertidur pulas di pangkuan saya. Mas Ian pun kini terduduk di samping saya.

“Haduh, makasih ya rin. Gue gatau lagi harus gimana kalo ngga ada lo. Ini enaknya gue bawa dia ke dokter abis bangun apa gimana ya.”

“Iya gitu juga gapapa mas. Ini sebenernya dikasih penurun panas juga udah sembuh. Paling dia kecapekan karena main. Aldo juga dulu begitu.”

“Emang beda ya, kalo yang dah nikah. Apa gue juga kudu cari istri kek lo ya hahaha.”

“Ya jangan kek gue juga dong, cari yang lebih baik lagi. Seorang Christian Yunanda deserves better lah.” Kata saya sambil mengelus-elus rambut anak ini.

“Hahaha bisa aja lo. Oiya, in case lo gatau nama ponakan gue. Namanya Manda, ini anak kakak gue yang di Bali.”

“Oh oke. Baru mau gue tanyain.”

                Sorenya, saya kembali lagi ke rumah mas Ian bersama Aldo untuk membantu mas Ian membuat bubur. Tentu saja buat Manda yang sedang sakit. Manda kini nampak tertidur di depan tv ditemani Aldo di sebelahnya yang juga ikut menonton tv. Sementara saya dan mas Ian berada di dapur untuk memasak bubur. Saat saya akan mengambil panci di lemari bagian atas, saya pun sedikit kesulitan karena posisi panci yang sangat masuk ke dalam lemari. Tiba-tiba, mas Ian pun berdiri di belakang saya dan membantu mengambil panci. Jarak saya dengannya sangat dekat, hingga saya kini dapat mencium bau parfum yang menguar dari kaos putih yang dikenakannya.

“Bilang dong kalo susah rin.” Kata mas Ian sembari tersenyum dan melanjutkan kegiatannya memotong sayuran.

“Eh..iya mas.”

Kejadian tadi membuat saya terdiam dan tidak berani menatap mas Ian hingga bubur yang dimasak telah siap. Saya pun memanggil Aldo dan Manda yang kini menonton tv bersama dan nampak akrab sekarang. Setelah selesai, saya dan Aldo pun pamit pulang.

Tinggalkan komentar